Pages

Jumat, 06 Juni 2014

Berpikir Untuk Maju

Berpikir Untuk Maju
Oleh: La Arcan

Berpikir adalah budayaku, birpikir positif idamanku, berpikir berani kekuatanku, berpikir maju adlah masa depanku. Tapi ada yang hilang dariku,,,, maaf ya kamu aja yang cari. Kalau tidak mau cari jangan cari perhatian donk, jangan cari muka donk, jangan cari hidup donk, jangan cari pasangan donk, jangan cari ilmu donk, jangan cari uang donk, jangan cari instansi donk, dan jangan cari makan donk. Mendingan jangan tahu diri sekalian supaya tidak dikenal. Kasihan saya mau jadi apa. Kalau saya tidak jadi manusia yang berguana bagi Bangsa bagimana dengan nasib rakyat, Kalau saya tidak pandai berpikir dan bawa diri, ku kemanakan Batuatasku yang tercinta. Tolong kamu yang jawab nah. Karena ini untuk kemaslahatan masyarakat kita, Apakah kita biarkan negeri ini dikuasai dan dijajah oleh oknum-oknum kapitalisme, tentunya jawabannya kamu sendiri yang tahu, yakni putra-putri daerah itu sendiri yang tahu, bukan orang dari daerah lain yang menguras dan mengetahui sumber daya alam dan sumber daya manusia bangsamu itu. Tapi kamu sendiri yang tahu banyak hal akan daerahmu itu, jangan biarkan Batuatasmu mati karena ulatmu, Tapi buatlah masyarakat Batuatas menantimu dari jauh sehingga kamu datang mendekatinya, agar tidak ada dusta diantara kita.

Rakyat Dan Tuhan, Dimana Suaranya

Rakyat dan Tuhan, Dimana Suaranya?
(Catatan Buat In-demokratis) 
Oleh: La Arcan
(Ketua Umum HMI- MPO  Komisariat Bulan Sabit,Kota Kendari)


Pada umumnya, masyarakat Indonesia telah menggunakan  istilah suara rakyat suara tuhan sehingga  istilah ini menjdi familiar  dikalangan masyarakat secara luas. Istilahnya dalam bahasa latin “vox populi vox dei”  yang artinya suara rakyat adalah suara tuhan. Suara rakyatlah yang menentukan pesta perpolitikan  bangsa ini.
Olehnya itu tindakan dan keputusan hakim harus mencerminkan keadilan demi terwujudnya masyarakat aman dan sejahtera. Sikap dan tindakan inilah yang merupakan represintasi daripada suara tuhan. Agar kemudian keputusan hakim bisa mendekati dan bahkan sama dengan keadilan yang sesungguhnya. Kemudian para pengadil itu harus mereka paham akan suara rakyat. Paling tidak, keputusan hakim ini harus mendekati kehendak dan suara masyarakat banyak.
Dalam konteks inilah suara rakyat dianggap sebaga penyampai kehendak illahi. Pengadil yang membawa aspirasi masyarakat luas harus bernuansa adil, objektif,  dan berpihak kepada kebutuhan dan harapan masyrakat banyak.
Pada saat ini, istilah suara rakyat adalah suara tuhan lebih menempel kepanggung politik. Kehendak suara rakyat mayoritas akan sangat menentukan proses politik atau Pemilu. Maka tidak ada kekuatan lain yang secara moral bisa membendungnya.
Alasan inilah sehingga proses politik  bangsa ini yang notabenenya melibatkan seluruh masyarakat secara langsung dianggap sebagai sesuatu yang ideal. Jika proses atau keputusan politik itu disampaikan kepada perwakilan yang sering kali bersifat transaksional pragmatis maka itu dianggap tak sesuai dengan kehendak rakyat apalagi suara tuhan. Karena akan melahirkan perwakilan rakyat yang serba berpikir untung rugi. Artinya, ia hanya menuntut keseimbangan antara “apa yang dikeluarkan” dan “apa yang dihasilkan” . hasilnya aspirasi rakyatpun diabaikan, semua (biasanya) sibuk membincang agenda proyek yang berbuntut pada keuntungan pribadi. Bukan aspirasi yang di kedepankan, apalagi melahirkan amandemen Undang – Undang (UU) yang berpihak.
Transendensi politik pun hanya berkutat pada lingkaran janji dan slogan – slogan kompanye. Mana ada suara tuhan itu? Yang ada hanya bisik lirih syahwat kekuasaan. Pelan tapi pasti menguras waktu lima tahun. Bayangkan berapa APBN yang terbuang habis untuk wakil rakyat yang lupa diri itu. Benarlah apa yang diucapkan Sigmund Freud dalam psikoanalisanya,salah satu hal yang digilai manusia adalah berburu kekuasaan.
Sejatinya trias politica sebagaimana struktur demokratis kekuasaan adalah melayani rakyat sebagai demos dalam negara. Ketergantungan (depedensi) kuasa politik untuk keuntungan bukan demokrasi tapi tirani.
Disinilah letaknya kita butuh transfusi darah segar, meminjam istilah Murtadha Muthahari. Yakni wakil rakyat yang cerdas secara gagasan dan profesioanal dalam sikap. Hanya ini obatnya yang mengatasi demokrasi yang kurang stamina. Inilah suara tuhan dalam demokrasi, yang tidak menepati adalah munafikun.

Politik itu Sarana

Politik itu Sarana

oleh: La Arcan

Perpolitikan negeri ini sangat kita sayangkan. Politik, mereka jadikan sebagai ajang untuk kemudian mereka memperkaya diri, sehingga perpolitikan bangsa ini telah melahirkan Korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hancurnya negara disebabkan oleh sekolompok dan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya kemampuan untuk bersaing dengan negara-negara maju. Seperti Amerika, dan jepang. Sehingga mereka-merakalah yang akan mengeksploitasi bangsa dan negara sehingga bangsa ini telah melahirkan generasi-generasi gagal ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan iman dan takwa. Itu semua disebabkan perpolitikan yang instan dan hilangnya pribadi yang matang dan mandiri dalam hal mengurus Indonesia Raya. Padahal kalau kita kembali menelaah substansi politik itu sendiri merupakan cara dan seni untuk kemudian mendapatkan apa yang kita cita-citakan. Sehingga dengan tujuan politik ini, insya Allah akan melahirkan generasi - generasi amanah, kritis, cerdas, dan perduli terhadap harkat dan martabat bangsa yang dimana sudah di dingung - dengungkan sejaka kepemimpinan Ir Soekarno sebagai kepala negara Indonesia. Saya mengajak kepada  seluruh rakyat indonesia dengan moment Pilpres yang dimana jatuh pada tanggal 09 juli 2014 pilihlah pemimpin yang betul - betul berjuang demi kesejahteraan Bangsa dan Negara. Agar negara menjadi negara yang diridhoi oleh Allah SWT. Suara kita penentu maju dan mundurnya Bangsa ini. Jangan Golput dan jangan salah mimilih karena suara kita merupakan penentu mereka - mereka yang akan memperjuangkan hak rakyat indonesia dan tidak memberikan ruang kepada negara lain untuk mengeksploitasi dan menjadi promotor dan otak bagi Bangsa yang kita cintai ini. Amin.
Dua Untuk Keseimbangan
Oleh: La Arcan
Ketua Umum HMI (MPO) Komisariat Bulan Sabit,Kendari


Menyaksikan perkembangan pemilihan presiden (Pilpres) akhir – akhir ini, saya cukup yakin yang menang itu adalah yang seimbang dan sederhana. Hampir tiap penjuru, rakyat berbondong – bondong menyatakan simpati. Jadi relawan pada capres – cawapres yang saya  “rasakan” ini.
Pilpres yang jatuh pada tanggral 9 juli 2014, akan melahirkan kepala negara  yang sederhana, apa adanya, tidak neko –neko, ulet, jujur, cerdas, bertanggung jawab, merakyat, dan punya etos kerja yang jelas terhadap negeri ini. Dan saya melihat salah satu kandindat yang memenuhi dan memiliki point – point diatas hanyalah dua untuk keseimbangan.  Yang satu lebih tua tapi cepat mengambil keputusan. Dan yang dua  apa adanya tapi cepat kerja. Inilah substansi daripada dua untuk keseimbangan.
Kita melihat bahwa capres/cawapres yang mendukung dua kubu calon tersebut sangat jelas sekali kualisi pragmatis politiknya. Dan ini di buktikan dengan beberapa partai  yang punya kepentingan pada pilpres nanti. Kita kembali melihat beberapa fraksi – frasksi yang mendukung calon presiden, yang dimana kita melihat bahwa calon nomor satu (1) didukung oleh 7 partai. Diantaranya adalah partai Gerindra, PAN, Golkar, PBB, PPP, Demokrat, dan PKS sementara partai yang koalisi dengan calon nomor urut dua (2) hanya 5 partai yakni,  PDIP, PKB, PKPI, Nasdem, dan Hanura. Jadi secara parlemen dan partai  nomor urut (1) satulah yang naik sebagai Presiden Indonesia periode 2014-1019.
Bisa saja multipartai menjadi masalah ketika pemilu capres/cawapres 9 juli 2014 mendatang menghasilkan pemerintahan terbelah, Ketika pemenang pilpres dalam pemilu langsung tidak mendapatkan dukungan signifikan di DPR karena perolehan suara partai pengusung capres/cawapres, dianggap tidak cukup untuk memback up program-program pemerintah seperti yang dialami SBY pada pemerintahannya periode 2004 – 2009. Jadi inilah yang menjadi kajian rakyat bersama agar pilpres 9 juli 2014 nanti bisa melahirkan pemimpin yang nantinya akan didukung oleh DPR dan tidak kembali lagi pada pemerintahan SBY pada periode 2004-2009 yang lalu.

Saya mengutip pernyataan Samuel Huntington, dia menegaskan bahwa dalam konteks pembangunan politik, yang terpenting bukanlah jumlah partai yang ada, melainkan sejauh mana kekokohan dan adaptabilitas sistem kepartaian yang berlangsung. Suatu sistem kepartaian baru disebut kokoh dan adaptabel, kalau ia mampu menyerap dan menyatukan semua kekuatan sosial baru yang muncul sebagai akibat modernisasi. Dari sudut pandang ini, jumlah partai hanya akan menjadi penting bila ia mempengaruhi kapasitas sistem untuk membentuk saluran-saluran kelembagaan yang diperlukan guna menampung partisipasi politik.

Sistem multipartai harus dibarengi dengan kualitas kinerja parpol. Bukan hanya sekedar kualisi yang dimana hanya untuk kepentingan dan politik pribadi dan partainya. Sehingga output model perpolitikan pilpres yang tidak berhukum nantinya akan melahirkan tuyul – tuyul partai dan jebolnya sistem pemerintahan yang kita cita – citakan bersama.

Sebagaimana dinyatakan dalam Undang – Undang Pemilu, tujuan dari sistem pemilu adalah melaksanakan kedaulatan Rakyat dan tercatat dalam Pasal. 1 ayat 1 dan membentuk pemerintahan perwakilan juga tersuratt dalam Pasal 1 ayat 3 dan 4 .Dan ini merupakan suatu ketentuan yang sejalan dengan prinsip demokrasi bersama dan merakyat. Akan tetapi di dalam perwujudan dan pengoperasiannya, biasanya penguasa menjuruskan tujuan tersebut untuk membangun legitimasi bagi suatu pemerintah yang stabil dan kuat melalui mobilisasi politik. Maka operasi pemilu secara demokratis yakni menyeimbangkan tujuan operasional tersebut dengan penggunaanya sebagai alat perjuangan kepentingan rakyat melalui pertisipasi politik dan sosialisasi politik, menjadi terabaikan alam.

Saya melihat bahwa nomor urut dua (Jokowi- JK) merupakan salah satu calon presiden yang dirindukan oleh rakyat Indonesia. Dan nomor urut dua ini punya bahasa filosophi tersendiri yakni nomor keberuntungan untuk bangsa indonesia raya ini. Maka dari itu saya mengajak kepada masyarakat untuk kemudian melihat dengan mata kita, mendengar dengan telinga kita, dan berbicara dengan suara kita untuk memilih pemimpin rakyat yang lahir karena suara, aspirasi, sepenanggungan, se visi dan se misi dari rakyat.
Jokowi-JK yang tepat jadi pemimpin negeri ini. Karena Jokowi – JK pemimpin yang sederhana. Yang dimana kesederhanaanya bisa kita lihat dari kpribadiannya yang dia miliki, dan juga apa yang menjadi visi – misinya terlahir dari masyarakat. sehingga apa yang dia perjuangkan insya Allah hanya untuk kemajuan rakyat indonesia.

Jokowi-JK adalah orang yang konsisten dan komitmen memperjuangkan aspirasi rakyat sebagai konstituennya. Tidak hanya menjadikan rakyat sebagai "sapi perah", ketika suaranya hanya dibutuhkan pada saat pemilu. Maka dari itu sudah saatnya masyarakat indonesia merekomendasikan Jokowi-JK sebagai presiden negara indonesia.

Masyarakat memilih pemimpin yang menurut mereka itulah yang baik diantara yang terbaik untuk memimpin negeri ini. tetapi segelintir masyarakat ketika menentukan pilihannya kadang mereka lihat dari parpol yang dimana mereka di usung. Bobot suatu sistem pemilu dan kepartaian lebih banyak terletak pada nilai demokratis didalamnya, dalam artian hanya terkait dengan bagaimana pemilu dapat memberikan hak kepada setiap pemilih untuk memberikan suaranya sesuai dengan keyakinan pilihannya, dan bagaimana setiap kontestan pemilihan akan memperoleh dukungan secara adil, yaitu peluang yang sama bagi setiap kandidat untuk meraih kemenangan.

Sebagai warga negara indonesia berhak menentukan pilihannya demi pemimpin merakyat, dan bertanggung jawab. Jangan golput karena golput bukan solusi dan hanya akan menyengsarangkan rakyat dan anak bangsa. Tunjukan bahwa masyarakat yang menentukan kegagalan dan keberhasilan indonesia raya ini.
Bukan rakyat indonesia ditanggal 9 juli 2014 nanti mereka golput. Karena rakyat indonesia punya tanggung jawab yang signifikan dalam penentuan maju dan mundurnya bangsa indonesia. Jangan kita biarkan pilpres nanti melahirkan penguasa. Dengan suara kita di tanggal 9 juli 2014 nanti sehingga aka menghasilkan (output) pemimpin ideal. Sehingga pemerintah dan rakyat indonesia tidak terjadi kesenjanggan sosial. Akhirnya di tanggal 9 juli 2014  nanti dengan suara rakyat meghasilakan  pemimpin yang diridhoi oleh Allah SWT. YAKUSA
Gairah Muda Batuatas Island

Oleh: La Arcan
Sekretaris Korps Pengader Cabang HMI Kota Kendari

Batuatas merupakan pulau yang memiliki budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Keunikan batuatas sampai kapanpun tidak akan pernah pudar dan akan selalu di jaga dan dilestarikan oleh masyarakat dan generasi muda. Semua itu dikarenakan masyarakat batuatas memiliki etos persaudaraan yang begitu akrab sehingga ukhuwah islamiyahnya tetap stabil dan terjaga.
Batuatas island juga mempunyai potensi alam yang begitu bagus sehingga masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut merasa betah dan terpenuhi kehidupannya.  Mata pencaharian masyarakat batuatas adalah Pelayar, nelayan, dan petani. Alhamdulillah dengan ketiga sub pokok tersebut masyarakat batuatas bisa menjalani hidupnya seperti masyarakat yang tinggal di kota. Dengan pendapatan pas-pasan, 75 %  masyarakat Batuatas punya keinginan mulia agar kemudian menyekolahkan anaknya di kota metropolitan. Dan sekarang generasi muda Batuatas sudah tersebar di segala penjuru negeri ini.
Keinginan orang tua Batuatas menyekolahkan anaknya merupakan spirit bagi kami untuk kemudian kami menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, masyarakat, dan Batuatas khususnya dan umumnya nusa dan bangsa yang kita cintai ini.
Doa, dukungan, dan usaha mulia orang tua kami yang tidak akan pernah kami lupakan sebagai anak bangsa sampai ajal menjemput kami. Hidup dan mati kami hanya untuk bangsa ini. Kami relakan darah ini mengalir hanya untuk kemerdekaan negeri ini. Jiwa dan darah kami adalah darah pancasila, NKRI,  dan jiwa perjuangan.
Perjuangn anak bangsa bukan perjuangan setengah – setengah tetapi idealnya perjuangan  anak bangsa adalah perjuangan totalitas untuk kemudian mengembalikan negeri ini kepada UUD 1945. Khususnya pasal 33 tahun 1945 perlu dilaksanakan sebagai perwujudan kecintaan kita kepada negeri ini. Kami merindukan pemimpin yang mau kerja sama dengan kami. Karena cita -  cita dan harapan kami sebagai generasi bangsa hanya untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa ini.
Kami ingin negeri ini menjadi negeri yang bersih dan mandiri. Tetapi negeri ini tidak akan pernah mandiri kalau pemimpin kotemporer ini berlagak penguasa dan tidak perduli dengan kesejahteraan rakyat dan bangsa. Seandainya pemerintah negeri ini intensif dan meangaktualisasikan pasal 33 tahun 1945 saya yakin dan percaya negeri ini akan menjadi negeri yang diridhai oleh Allah SWT.
Saya mengharapkan kepada generasi muda Batuatas agar menjadi ganerasi yang tangguh dan berani mengambil keputusan demi terbinanya masyarakat batuatas yang mandiri dan berbudaya. Dan bukan jaman kita ketika kita jago dalam tempurung karena jaman itu jamannya nenek moyang kita. Tapi kita sebagai generasi muda harus punya konsep kebangsaan, keislaman, dan kemasyarakatan yang matang. Sehingga cita –cita dan bangsa bangsa menjadi tujuan bersama.
Saya yakin dan percaya generasi muda Batuatas memiliki IPTEK dan IMTAK yang tidak bisa lagi kita ragukan. Maka dari itu, sudah saatnya kita buktikan kepada masyarakat batuatas agar mereka sadar dan tahu bahwa generasi muda Batuatas memiliki kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual yang matang untuk membangun Batuatas khususnya.
Hai, generasi – generasi muda, sekarang ini merupakan hari, bulan, tahun, dan moment  kita untuk meprogresifkan diri menuju pribadi yang mampuni dan akuntabilitas mengawali perpolitikan negeri ini. Saudara – saudaraku sekalian, kalau ada kesempatan kita untuk kemudian mengerjakan sesuatu maka lakukanlah dan kerjakanlah selagi itu baik untuk pribadi, masyarakat dan bangsa. Kesempatan pertama itu merupakan kesempatan emas buat kita karena kesempatan pertama tidak mungkin akan datang kedua kalinya. hari kemarin, sekarang, dan akan datang merupakan hari kita untuk merubah diri, masyarakat, dan bangsa menuju cita-cinta bersama kita. YAKUSA

Selasa, 05 November 2013

Masyarakat Desa Taduasa Menginginkan PILKADES secepatnya


             HIMPUNAN PELAJAR MAHASISWA PEMUDA     TADUASA
(Taduasa Students and Young Association)
                         Sekretariat: Jl.  Langkalase Tadusa.Arcantds@yahoo.com HP 081342424885
 


“Tiap – tiap kamu adalah pemimpin dan tiap – tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya sesuai dengan apa yang dipimpinnya”
(H.R. Bukhari - Muslim)
Eksistensi di desa Taduasa kotemporer ini sangat memprihatinkan, terkait dengan terpulangnya almarhum  kepala Desa Taduasa (La Ode Rahmat) yang dimana beliau baru menjabat 4 bulan sebagai kepala Desa Taduasa dia sudah meninggalkan amanah besar dari masyarakat.  Sehingga mengingat kondisi pemerintahan desa taduasa yang sudah di ujung tanduk ini. Kami atas nama keluarga besar masyarakat taduasa menginginkan secepatnya Pemilihan Kepala Desa Taduasa untuk mengantisipasi kemacetan dan kurang berfungsinya elemen politik pemerintah Desa Taduasa khususnya dan tidak menimbulkan kontra atau konflik di tengah – tengah masyarakat Desa Taduasa Umumnya.
“Ada Radio Gram Bupati belum lama ini, penegasan bahwa demi stabilitas dalam pelaksanaan PILLEG, maka tidak ada PILKADES dari sekarang sampai dengan selesainya PILLEG dan ini bersifat general desa se Kab. Buton ”
Tetapi belum lama ini ada pemilihan kepala Desa di Talaga Raya II  tepat pada hari minggu 27 oktober 2013. Dan ini bukan hanya terjadi di Desa Talaga Raya II, tapi masih ada juga di desa lain, seperti di Kadatua dan Lakudo yang telah menyelenggarakan pemilihan Kepala Desa tersebut.
Bahkan  beliau mengatakan juga bisa pemilihan kepala Desa Taduasa asalkan salah satu calon Kepala Desa Taduasa sama – sama dengan laskar UB untuk menghadap bupati. Kami menilai apa yang dikatakan oleh pak Camat baru – baru ini tak berdasar baik dari segi aturan maupun fungsi camat sebagai perpanjangan tangan bupati diwilayah kecematan. Ini menunjukan fungsi camat tidak ada dalam persoalan ini, sehingga kami beranggapan bahwa pernyataan camat sarat dengan kepentingan politik.  
HIPERMAMUTAS sebagia bagian dari elemen masyarakat Taduasa khususnya meminta agar pemerintah kecamatan Batuatas lebih fokus dan konsisten merealisasikan keinginan Masyarakat Desa Taduasa mengingat tidak adanya kepala Desa Taduasa. Kami menekan kepada camat batuatas agar lebih profesional dan terukur dalam mengkaji kebijakan pemerintah  saat ini sehingga tidak terkesan ikut – ikutan. Artinya bahwa camat batuatas harus lebih realistis dalam mengkaji persoalan kebijakan pemerintah. Mengingat persoalan desa sampai saat ini belum sepenuhnya direalisasikan, bahkan gaji Kaur – kaur, BPD, dan uang ADD desa taduasa mengalami ketidakjelasan. Mengenai untuk secepatnya terbentuk kepala desa ini, kami meminta pemerintah  Kec. Batuatas dalam hal ini Camat Batuatas yang menjadi ikon utama.  Jika tidak dipenuhi, maka kami atas nama HIPERMAMUTS Kec. Batuatas secara kelembagaan menyerukan kepada Camat Batuatas secara penuh untuk segara mengundurkan diri dari jabatannya sebagai konsekuensi dari janji  politiknya yang disampaikan pada saat menjawab keinginan masyarakat taduasa . kami juga menilai bahwa pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah atas nama Camat Batuatas saat ini sangat tidak menyentuh kebutuhan masyarakat tetapi hanya mengejar kepentingan politiknya semata.

Billahi Tawfik Wal Hidayah As. Wb                     Kendari, 06 November 2013


Pemerhati Masyarakat Wacuata






























Kamis, 10 Oktober 2013

Pentingnya Memahami Hikmah Halal Bi Halal


Pentingnya Memahami Makna dan Hikmah Halal bi Halal
Berbicara Halal bi Halal berarti kita berbicara bagaimana kita menyatukan persepsi kita menuju masyarakat yang di ridhoi oleh Allah SWT. “Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.” Untaian kalimat itu yang paling banyak terdengar ketika momentum Idul Fitri. Alhamdulillah, Lebaran telah tiba dan proses halal bihalal sudah berlangsung.
Bagi kita Umat Islam, Idul Fitri bukan sekadar perayaan ritual semata. Idul Fitri yang memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian menjadi momentum yang berbahagia. Bagaimana tidak, di saat Idul Fitri, sebagaimana diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci, Umat Islam lahir ‘kembali’ seorang manusia yang tidak dibebani dosa apapun. Bagaikan kelahiran seorang anak, yang diibaratkan secarik kertas putih.
Jika kita kembali pada sejarah Islam, sejak zaman Rasulullah SAW, sahabat, para tabi’ dan tabi’ tabi’in bahkan hingga saat ini, maka kita tidak akan mendapatkan istilah Halal bi Halal kecuali Silatu Rahim. Meskipun Istilah Halal bi Halal ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “Halal dengan yang halal” atau “sama-sama saling menghalalkan” atau kadang pula diartikan dengan “saling maaf memaafkan/saling menghalalkan dosa masing-masing” namun terdapat kerancuan pemahaman di kalangan orang Arab itu sendiri (ashab al-lughah) terhadap penggunaan dan maksud dari istilah ini. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air Indonesia khususnya umat islam di seluruh penjuru dunia, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang. Kata halal memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti ‘diperkenankan’. Dalam pengertian pertama ini, kata halal adalah lawan dari kata haram. Kedua, berarti “baikâ”.  Dalam pengertian kedua, kata “halal” terkait dengan status kelayakan sebuah makanan.
Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman. Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317).
Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman. Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317).
Pada ayat ini, telah mengisyaratkan akan adanya sifat pemaaf, yang kemudian pada ayat 237 surah Al-Baqarah disebutkan bahwa :
 “Dan jika kamu memaafkan, maka hal itu lebih dekat kepada takw”
Memaafkan orang lain sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh baginda Rasulullah SAW di awal dakwahnya, bahkan beliau mendoakan mereka yang ingkar dan telah melukainya di saat Jibril as meminta kepadanya untuk memohon balasan atau azab Allah bagi mereka, merupakan suatu kesabaran dan keteguhan hati dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal senada pun akan dijumpai dalam berpuasa pada bulan Ramadhan, dimana dengan berpuasa akan melatih kesabaran dan membentuk keperibadian dalam meraih tujuan utama dari puasa yaitu:
 Agar kamu bertakwa” (QS.Al-Baqarah:183)
Sehingga para ulama yang menyebarkan islam di Indonesia, di saat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang awam tentang perbedaan Silatur Rahmi pada hari-hari biasa dan pada hari Ied, mereka lebih menyederhanakan perbedaan tersebut dengan Istilah baru yaitu Halal bi Halal, yang dapat berarti bahwa bersilatur rahmi di hari biasa boleh jadi Haram bi Halal atau orang yang menjalin hubungan telah berbuat salah dan dalam keadaan biasa-biasa saja terlebih lagi di Indonesia, ungkapan silatur rahmi lebih diterjemahkan dengan sekedar berziarah. Sedangkan bersilatur rahmi setelah Ied merupakan refleksi dari pembentukkan keperibadian di saat berpuasa sehingga orang yang menjalin dan dijalin silatur rahmi dalam keadaan suci, sadar dan ikhlas untuk memaafkan dan dimaafkan serta memperbaiki hubungan yang telah kusut.
Makna dari Halal bi Halal ini akan lebih bermakna jika puasa yang dilakukan benar-benar sempurna dan mampu meraih tujuan utama dari puasa itu sendiri yaitu meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Karena Rasulullah SAW bersabda :
 “Banyak sekali orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar” (HR.Nasai, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan niat dan tujuan dalam berpuasa. Jika kita ingin melakukan perjalanan ke suatu tempat, mislanya dari Ambon menuju Jakarta, maka niat kita bukan sekedar berangkat ke Jakarta dan tujuan kita bukan semata-mata karena ingin sampai atau tiba di bandara maupun pelabuhan yang ada di Jakarta, melainkan masih banyak tujuan-tujuan utama lainnya yaitu ingin mengagumi kemegahan kota metropolitan, bersilatur rahmi dengan sanak saudara, berbelanja ataupun berekreasi dan bertamasya. Begitu pula halnya dengan berpuasa, dimana niat berpuasa bukan sekedar melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, malu dengan tetangga atau takut dihina. Dan tujuan berpuasa bukan karena ingin sampai dan tiba di pelabuhan idul fitri saja melainkan masih banyak tujuan utama lainnya yang akan menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa.
Kesadaran akan niat dan tujuan inilah yang akan mendukung pelaksanaan puasa guna membentuk keperibadian yang sebelumnya mati rasa menjadi sensitive dalam merasa dan memperoleh banyak bekal lahir maupun batin sebagai tabungan di tempat tujuan. Di saat tiba di pelabuhan Idul Fitri, begitu kaget dan tercengan akan kebesaran, kemegahan dan kemuliaan Allah SWT seraya bertakbir :
 “Maha besar Allah, Maha besar Allah, Maha besar Allah bagi-Mu segala puji”
Pujian yang bukan sekedar lantuman nada melainkan pujian hakiki yang muncul dari dalam diri yang senantiasa akan membuat orang semakin betah dan bergegas mencari sanak saudara untuk bersilatu rahmi.
Kalimat Silatu Rahmi tersusun dari dua kata yaitu Shilah yang berarti “Hubungan” dan Rahmi yang berarti “Kerabat”, “Rahim dimana janin berada” atau “Kasih sayang”. Secara harfiah, Silatu Rahmi berarti “menjalin hubungan tali kekerabatan” atau “menjalin hubungan kasih sayang”. Secara istilah, oleh Al-Maraghi mendefinisikannya dengan menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan secara sungguh-sungguh karena Allah SWT. Sebagaimana firmannya dalam Surah Ar-Ra’d:21 :
 “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk”.
As-Shiddiqi dalam Al-Islam, membagi Silatu Rahmi kepada dua bagian, Silatu Rahmi umum dan Silatu Rahmi khusus.
Silatu Rahmi umum yaitu silatu rahmi kepada siapa saja, seagama maupun tidak seagama, kerabat dan bukan kerabat. Di sini kewajiban yang harus dilakukan adalah: menghubungi, mengasihi, berlaku tulus, adil, jujur, berbuat baik dan hal-hal yang bersifat kemanusiaan. Silatu rahmi ini di sebut juga dengan silatu rahmi kemanusiaan.
Silatu Rahmi khusus yaitu silatu rahmi kepada kerabat dan kepada yang seagama yaitu dengan cara membantunya dengan harta, tenaga, menolong dan menyelesaikan hajatnya, berusaha menolak kemudharatan yang menimpa serta berdoa dan membimbing agamanya.
Dengan bersilatur rahmi, maka akan timbul rasa kasih sayang diantara sesama, dan kasih sayang ini akan menyempurnakan keimanan. Sebagaimana sabda Nabi SAW :
 “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian benar-benar beriman, dan kalian tidak akan sampai meraih keimanan dengan benar sampai kalian saling mencintai dan mengasihi diantara sesama, maukah aku tunjukkan suatu perkara apabila kalian laksanakan maka kalian akan saling mencintai dan mengasihi “sebarkanlah salam diantara kalian” (HR.Muslim).
Hadis ini menunjukkan akan pentingnya Silatu Rahmi meskipun dimulai dengan hal yang dianggap remeh dan mudah yaitu dengan mengucapkan salam dan tegur sapa yang akan melahirkan keakraban dan kepedulian terhadap sesama. Meskipun mudah namun kadang sulit untuk diterapkan, padahal Rasulullah SAW bersabda :
“Kebaikan yang paling cepat balasannya adalah berbuat kebaikan dan silatu rahmi”
Sungguh agung dan mulia ajaran Islam yang menyeru ummat islam untuk saling kenal mengenal dan menjalin hubungan persaudaraan dan menggalakkan sikap peduli terhadap sesama. Dan islam pun mengunci kuat pintu-pintu konflik dan menutup rapat potensi permusuhan.sebagaimana dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW mengancam orang-orang yang memutuskan tali silatu rahmi :
 “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silatu rahmi” (HR.Muslim).Dan :
 “Barang siapa yang bertengkar dengan saudaranya melebihi tiga hari maka tidak akan diterima amal keduanya hingga keduanya rujuk kembali dan yang pertama rujuk adalah yang paling baik”
Kesemua itu menunjukkan bahwa amal dan peribadatan seorang hamba tidak akan sempurna tanpa memperbaiki hubungan silatu rahmi. Dengan kata lain, hubungan antara Allah dan seorang hamba (hablun minallah) akan sempurna jika hamba itu menjaga dan menjalin hubungan antar sesama (hablun minannas).
Dengan bersilatur rahmi akan menyempurnakan keimanan kepada Allah SWT, terutama jika silatu rahmi yang dijalin benar-benar atas dasar saling menghalalkan dosa-dosa/memaafkan masing-masing dengan ikhlas. Maka bekal atau modal yang telah kita peroleh selama bulan ramadhan tidak berkurang, bahkan telah mendapatkan bantuan teman/kerabat yang akan mengantar berbelanja bukan sebatas pada kebutuhan primer seperti shalat wajib dan puasa wajib saja, melainkan mampu memborong barang-barang kebutuhan sekunder dan lux seperti shalat sunnah dan sebagainya. Dan akan menjadi orang yang benar-benar menikmati tamasya dan rekreasi di akherat kelak.
Adanya perbedaan penyebutan antara Silatu Rahmi pada hari biasa dan Ied yang lebih dikenal di Indonesia dengan Halal bi Halal disebabkan pula oleh kemuliaan bulan Ramadhan sebagai penghormatan terhadap keutamaan dan kelebihan, serta bulan Syawal sebagai bulan bertambah dan meningkatnya amal dan bonus atau discount untuk menutupi kekurangan yang ada pada bulan Ramadhan dengan berpuasa selama 6 (enam) hari di bulan syawal. Sebagaimana sabda Nabi SAW :
 “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, maka ia telah berpuasa selama satu tahun penuh. (HR.Muslim).
Semoga segala kekurangan amal perbuatan pada bulan Ramadhan dapat tertutupi dan ditingkatkan di bulan Syawal ini dengan Silatu Rahmi ataupun Halal bi Halal serta meningkatkan amal ibadah lainnya demi menyempurnakan keimanan menjadi insan kamil yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.
`Untuk menambah keyakinan kita, ada baiknya kita membaca kisah khalifah Umar. Dikisahkan, pada suatu malam di bulan Ramadan, Umar mengajak pembantunya berkeliling kota. Semua rumah gelap menandakan penghuninya sudah tidur. Ada satu rumah yang pintunya masih terbuka sedikit, karena tertarik Umar mendatanginya. Ternyata ada tangisan seorang anak yang suaranya hampir habis karena kelelahan. Mengapa anak itu menangis terus, sakitkah? Tanya Umar bin Khattab. Ibu anak itu menjawab, “Tidak, dia menangis karena kelaparan.” Umar melihat di dalam ada tungku yang menyala di atasnya ada kuali yang menandakan si ibu sedang memasak.  Apa yang sedang ibu masak? Tanya Umar kembali. Si ibu mempersilahkan tamu yang tak dikenalnya itu untuk melihat sendiri isinya. Betapa terpananya Umar ketika melihat isi kuali itu batu. “Mengapa ibu merebus batu?” Tanya Umar. Ibu itu menjawab, “Supaya anak saya melihat ibunya sedang memasak dan berhenti menangis. Itu yang dapat saya lakukan sampai tuan datang.” Terharu Umar mendengarnya. Matanya tertunduk dan menggeleng sedih. Saat itu pembantunya mengatakan, “Apakah ibu tidak tahu di Madinah ada Amirul Mukminin tempat ibu dapat mengadukan keadaan ibu untuk mendapatkan pertolongannya?” Langsung Ibu itu menjawab,
 “Andai di kota ini ada seorang Khalifah, maka dialah yang seharusnya datang kepada kami untuk melihat nasib kami, rakyatnya yang kelaparan.”
Mendengar ucapan itu Umar bin Khattab langsung lemas dan bergegas pergi mengajak pembantunya mengambil sepikul gandum. Umar pun memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang sedang kelaparan. Kisah itu menggambarkan betapa kokohnya spiritual seorang pemimpin (Umar) dan seorang rakyat jelata (ibu) yang miskin tetapi memelihara prinsip tawaru atau menjaga diri dari sikap meminta-minta. Di sisi lain, ada kekuatan spiritual seorang pemimpin yang menyadari dan menyesali kelalaiannya melayani rakyat. Sebagai umat Islam yang hidup di zaman modern, kita berharap agar nilai-nilai yang dijalankan Khalifah Umar bin Khattab masih dapat dijalankan oleh para pemimpin di negeri ini yang mayoritas berpenduduk Islam. Kita juga berharap, ketika kita benar-benar menjadi pemimpin umat kelak, dapat memberikan pelayanan kepada rakyat, khususnya rakyat yang tengah dilanda kelaparan dan kesusahan. Dengan berpuasa, kita berharap dapat meningkatkan rasa kepekaan terhadap kondisi sosial. Sebagai manifestasi kesalehan individual dan sosial, puasa menjadi sangat penting ketika mampu menciptakan kondisi kondusif untuk terjadinya perubahan demi terciptanya masyarakat yang egaliter, toleran, dinamis dan beradab. Dan, orang yang mampu menciptakan masyarakat seperti itu sudah mendekati ambang puasa ideal.